Kepemimpinan yang hanya bertumpu pada otoritas struktural, menurut berbagai riset organizational behavior, tidak lagi memadai. Legitimasi baru dibentuk oleh integritas, transparansi, kolaborasi, dan kemampuan menyelesaikan masalah secara etis. Simon menekankan bahwa ketika jabatan berakhir, baik karena masa tugas selesai atau perubahan politik, yang tersisa hanyalah rekam jejak pelayanan. Hal itulah yang menentukan kedalaman makna seorang pemimpin.
Dalam podcast tersebut, Simon membuka ruang refleksi mengenai perjalanan personalnya, terutama setelah tidak lagi aktif dalam kontestasi politik dan jabatan formal. Ia menjelaskan bahwa keluarnya seseorang dari panggung kekuasaan tidak seharusnya membuat kepemimpinan berhenti. Sebaliknya, justru pada fase inilah integritas seseorang diuji.
“Ketika jabatan tidak lagi melekat, barulah tampak siapa yang benar-benar memiliki jiwa pemimpin,” ujar Simon. Pernyataan ini menekankan bahwa kepemimpinan adalah identitas moral, bukan sekadar posisi birokratik. Banyak individu yang kehilangan orientasi ketika tidak lagi menjabat, karena selama ini mereka mengidentifikasi diri melalui struktur, bukan melalui nilai.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
