Kehadiran pemerintah dengan aksi nyata ini menjadi bukti bahwa negara tetap ada di sisi rakyat, terutama saat bencana melanda.
Bagi korban di Desa Manusak, kebakaran bukan hanya soal kehilangan rumah, tetapi juga tentang kehilangan rasa aman. “Kami hanya bisa berlari menyelamatkan diri. Semua barang dan dokumen terbakar. Kami bingung harus mulai dari mana,” tutur salah seorang warga dengan suara bergetar.
Hal serupa dirasakan warga Desa Bolok. Api yang berkobar cepat membuat mereka tidak sempat menyelamatkan banyak barang. Kini, yang tersisa hanya pakaian di badan dan harapan untuk bangkit kembali.
Trauma kebakaran masih terasa kuat, tetapi kehadiran pemerintah memberi sedikit ketenangan. “Kami bersyukur karena tidak dibiarkan sendiri. Bantuan darurat ini memang tidak bisa mengganti rumah kami, tapi paling tidak kami masih punya tempat berteduh sementara,” kata seorang ibu rumah tangga korban kebakaran di Bolok.
Selain pemerintah daerah, warga sekitar juga ikut menunjukkan kepedulian. Mereka bahu-membahu menolong korban, memberikan makanan, pakaian, hingga membantu mendirikan tenda darurat. Solidaritas ini menunjukkan bahwa semangat gotong royong masih hidup kuat di tengah masyarakat Kupang.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
