APBN Tetap Jadi Penyangga Ekonomi
Dari sisi fiskal, APBN disebut terus menjalankan fungsi sebagai shock absorber sekaligus instrumen pembangunan nasional. Hingga akhir triwulan II 2026, pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun, sedangkan belanja negara terealisasi sebesar Rp1.656 triliun. Belanja pemerintah diarahkan untuk mendukung program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial, pembangunan infrastruktur, subsidi energi, serta pembayaran gaji ke-13 dan tunjangan hari raya aparatur sipil negara.
Pemerintah juga mengalokasikan anggaran subsidi dan kompensasi BBM serta listrik lebih dari Rp232 triliun, sekaligus memperluas perlindungan sosial melalui Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Sembako, dan Program Indonesia Pintar (PIP). Kebijakan tersebut dinilai berkontribusi menjaga konsumsi rumah tangga sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi.
BI Perkuat Stabilitas Moneter
Untuk menjaga stabilitas makroekonomi, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur Juli 2026 setelah sebelumnya menaikkan suku bunga secara bertahap sejak Mei. BI juga memperkuat intervensi di pasar valuta asing, memperluas insentif investasi portofolio asing, menjaga likuiditas perbankan, serta memperdalam pasar uang dan pasar valas domestik.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








