“Warga Goma sangat menderita, seperti warga Kongo lainnya,” kata juru bicara M23, Lawrence Kanyuka, di X. “M23 sedang dalam perjalanan untuk membebaskan mereka, dan mereka harus bersiap menyambut pembebasan ini.” ungkap juru bicara pemberontak M23.
M23 sebelumnya pernah merebut Goma pada tahun 2012 dan menguasainya selama lebih dari seminggu, sebelum akhirnya diusir oleh tentara nasional Kongo.
Saat berita pertempuran menyebar, sekolah-sekolah di Goma memulangkan siswa pada Kamis pagi.
“Kami diberi tahu bahwa musuh ingin memasuki kota. Itulah sebabnya kami disuruh pulang,” kata Hassan Kambale, seorang siswa SMA berusia 19 tahun. “Kami seperti terus-menerus menunggu untuk di bom.” ungkapnya dengan ketakutan.
Rwanda dituduh mendukung pemberontak
Kongo, Amerika Serikat, dan para ahli PBB menuduh Rwanda mendukung M23, yang sebagian besar terdiri dari etnis Tutsi yang memisahkan diri dari tentara Kongo lebih dari satu dekade lalu.
Pemerintah Rwanda membantah klaim tersebut tetapi tahun lalu mengakui bahwa mereka memiliki pasukan dan sistem rudal di Kongo timur untuk menjaga keamanannya, dengan menunjuk pada penumpukan pasukan Kongo di dekat perbatasan. Pakar PBB memperkirakan ada hingga 4.000 pasukan Rwanda di Kongo.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
