Ia menemukan ide untuk membuat aplikasi pesan terenkripsi saat menghadapi tekanan di Rusia. Adiknya, Nikolai, merancang enkripsi tersebut.
“Saya lebih suka bebas daripada menerima perintah dari siapa pun,” kata Durov pada bulan April tentang kepergiannya dari Rusia dan pencarian kantor untuk perusahaannya, yang meliputi tugasbeberapa tempat seperti Berlin, London, Singapura, dan San Francisco.
Setelah Rusia melancarkan invasi ke Ukraina pada Februari 2022, Telegram telah menjadi sumber utama konten yang tidak difilter — dan terkadang grafis dan menyesatkan — dari pihak Rusia maupun Ukraina tentang perang dan politik di sekitar konflik tersebut.
Platform tersebut telah menjadi apa yang oleh beberapa analis disebut sebagai “medan perang virtual”, yang banyak digunakan oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan para pejabatnya, serta pemerintah Rusia.
Permintaan Rusia
Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan pihaknya telah mengirim catatan ke Paris yang menuntut akses ke Durov, meskipun disebutkan bahwa ia memiliki kewarganegaraan Prancis. Pemerintah Rusia juga menekankan agar Durov mendapatkan hak-haknya dan segera di bebaskan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
