Topik : 

Pertumbuhan AI dorong perusahaan besar dapatkan kesepakatan energi nuklir

AI
Kecerdasan buatan mungkin tampak tidak terlihat oleh kebanyakan orang, tetapi komputer yang menjalankan AI ditempatkan di gudang data seperti ini, dan membutuhkan banyak listrik. (Oleksiy Mark/Shutterstock)

Minggu lalu, Google mengumumkan kesepakatan dengan perusahaan rintisan nuklir Kairos Power, membeli 500 megawatt listrik dari tujuh reaktor modular kecil (SMR) yang belum dibangun. Dan beberapa hari yang lalu, Amazon membuat kesepakatan serupa dengan perusahaan rintisan X-Energy.

Menurut para pendukung teknologi ini, reaktor modular kecil dianggap lebih aman daripada pembangkit nuklir tradisional karena ukuran dan daya yang dihasilkannya lebih kecil. Reaktor ini juga disebut-sebut lebih murah dan lebih cepat dibangun, yang idealnya akan menyediakan sumber energi terbarukan bagi perusahaan teknologi — dalam kasus Google, paling cepat pada tahun 2030.

Perusahaan-perusahaan berlomba-lomba menuju nuklir karena mereka menggunakan daya yang jauh lebih banyak sekarang, karena meningkatnya penggunaan AI generatif. Baik Microsoft maupun Google gagal mencapai target emisi nol bersih mereka untuk tahun 2024.

Beberapa orang melihat investasi Microsoft, Google, dan Amazon dalam energi nuklir sebagai langkah positif menuju pengurangan emisi Big Tech.

“Saya pikir semua itu bagus untuk lingkungan,” kata Jacopo Buongiorno, seorang profesor sains dan teknik nuklir dan direktur Pusat Sistem Energi Nuklir Canggih MIT.

  • Bagikan
Exit mobile version