Minggu lalu, Google mengumumkan kesepakatan dengan perusahaan rintisan nuklir Kairos Power, membeli 500 megawatt listrik dari tujuh reaktor modular kecil (SMR) yang belum dibangun. Dan beberapa hari yang lalu, Amazon membuat kesepakatan serupa dengan perusahaan rintisan X-Energy.
Menurut para pendukung teknologi ini, reaktor modular kecil dianggap lebih aman daripada pembangkit nuklir tradisional karena ukuran dan daya yang dihasilkannya lebih kecil. Reaktor ini juga disebut-sebut lebih murah dan lebih cepat dibangun, yang idealnya akan menyediakan sumber energi terbarukan bagi perusahaan teknologi — dalam kasus Google, paling cepat pada tahun 2030.
Perusahaan-perusahaan berlomba-lomba menuju nuklir karena mereka menggunakan daya yang jauh lebih banyak sekarang, karena meningkatnya penggunaan AI generatif. Baik Microsoft maupun Google gagal mencapai target emisi nol bersih mereka untuk tahun 2024.
Beberapa orang melihat investasi Microsoft, Google, dan Amazon dalam energi nuklir sebagai langkah positif menuju pengurangan emisi Big Tech.
“Saya pikir semua itu bagus untuk lingkungan,” kata Jacopo Buongiorno, seorang profesor sains dan teknik nuklir dan direktur Pusat Sistem Energi Nuklir Canggih MIT.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
