Trump juga menyatakan keyakinannya bahwa Iran akan tertarik dengan surat tersebut, serta menegaskan bahwa “alternatifnya adalah kita harus melakukan sesuatu. Sebab, kita tidak bisa membiarkan mereka memiliki senjata nuklir.”
Namun, media pemerintah Iran melaporkan pada hari Jumat bahwa mereka belum menerima surat dari Trump. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan kepada AFP bahwa Iran tidak akan melakukan negosiasi dengan AS selama sanksi berat yang diterapkan terhadap negara tersebut masih berlangsung.
Baca Juga : Selandia Baru Pecat Diplomat Phil Goff
Laporan dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) pada bulan lalu menunjukkan bahwa Iran telah meningkatkan produksi dan akumulasi uranium yang diperkaya tinggi, yang menunjukkan kemajuan dalam program nuklir mereka sejak Trump terpilih kembali.
Pada 2018, Trump menarik AS secara sepihak dari kesepakatan nuklir yang sebelumnya dinegosiasikan antara Iran dan beberapa negara besar, yang bertujuan untuk membatasi program nuklir Iran. Trump menerapkan kebijakan “tekanan maksimum” dengan memberi sanksi tambahan untuk memaksa Teheran merundingkan kesepakatan baru. Kebijakan ini menghancurkan ekonomi Iran, namun tidak ada perundingan publik yang berlangsung antara kedua pihak sejak saat itu.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
