<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Opini &#8211; Sei News</title>
	<atom:link href="https://sei-news.com/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sei-news.com</link>
	<description>Sumber Utama Informasi Anda!</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Oct 2026 05:11:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://sei-news.com/wp-content/uploads/2024/02/512-100x75.jpg</url>
	<title>Opini &#8211; Sei News</title>
	<link>https://sei-news.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Cinta Orang Tua dan Ketulusan Guru BK Menuntun Generasi Penerus Menjemput Fajar Indonesia Emas</title>
		<link>https://sei-news.com/opini/cinta-orang-tua-dan-ketulusan-guru-bk-menuntun-generasi-penerus-menjemput-fajar-indonesia-emas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Sei-News.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2026 05:09:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sei-news.com/?p=49307</guid>

					<description><![CDATA[Cinta Orang Tua dan Ketulusan Guru BK Menuntun Generasi Penerus Menjemput Fajar Indonesia Emas Oleh:...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Cinta Orang Tua dan Ketulusan Guru BK Menuntun Generasi Penerus Menjemput Fajar Indonesia Emas</strong></p>
<p><strong>Oleh: Yusri Yuniati Tasoin, S.Pd., Gr.</strong></p>
<p><em>(Guru BK SMK Negeri Polen)</em></p>
<p>Bagaimana mungkin kita berbicara tentang Indonesia Emas jika anak-anak kita masih kalah oleh alarm pagi dan layar telepon genggam? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan besar tentang kebiasaan, kedisiplinan, pola asuh, dan tanggung jawab bersama dalam mendidik generasi penerus bangsa.</p>
<p>Setiap pagi, sekolah menyimpan cerita yang hampir sama. Ketika bel masuk telah berbunyi, masih ada murid yang berlari mengejar waktu, berdiri di balik pagar karena terlambat, datang dengan mata mengantuk, bahkan memilih membolos ketika pelajaran berlangsung. Bagi sebagian orang, hal itu mungkin hanya pelanggaran tata tertib. Namun, bagi Guru Bimbingan dan Konseling (BK), keterlambatan dan membolos dapat menjadi tanda bahwa ada persoalan yang perlu didengar lebih jauh.</p>
<p>Pendidikan bukan sekadar mengejar angka di rapor atau mendapatkan ijazah. Pendidikan juga tentang membentuk karakter, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemampuan mengelola diri. Karena itu, kebiasaan datang tepat waktu sebenarnya sedang mengajarkan murid untuk menghargai waktu dan bertanggung jawab terhadap masa depannya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Ibu Tak Ada, Siapa yang Mengajarkan Anak Bahwa Dunia Masih Aman?</title>
		<link>https://sei-news.com/opini/ketika-ibu-tak-ada-siapa-yang-mengajarkan-anak-bahwa-dunia-masih-aman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Sei-News.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2026 01:50:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sei-news.com/?p=49304</guid>

					<description><![CDATA[Ketika Ibu Tak Ada, Siapa yang Mengajarkan Anak Bahwa Dunia Masih Aman? Oleh: Sami A....]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ketika Ibu Tak Ada, Siapa yang Mengajarkan Anak Bahwa Dunia Masih Aman?</strong></p>
<p><em><strong>Oleh: Sami A. Liunokas, S.Pd.(Guru SMK Negeri Polen &#8211; TTS)</strong></em></p>
<p>Ada anak-anak yang datang ke sekolah membawa buku di dalam tas. Ada pula yang membawa sesuatu yang tidak terlihat: rasa kehilangan. Di antara mereka mungkin ada anak yang setiap pagi berangkat tanpa pelukan seorang ibu, tidak lagi mendengar suaranya sebelum berangkat sekolah, atau pulang ke rumah tanpa seseorang yang bertanya, “Bagaimana sekolahmu hari ini?” Bahkan ada yang tumbuh dengan pertanyaan yang tidak pernah berani ia ucapkan: Mengapa ibu tidak ada?</p>
<p>Bagi orang dewasa, kehilangan atau ketidakhadiran seorang ibu mungkin dapat dijelaskan dengan berbagai alasan. Namun bagi seorang anak, terutama pada usia dini, kehilangan sosok ibu dapat terasa seperti kehilangan tempat paling aman dalam hidupnya. Ibu bukan sekadar orang tua, tetapi sering menjadi tempat pertama untuk mencari pelukan ketika takut, bercerita ketika sedih, dan kembali ketika dunia terasa terlalu besar.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyalakan Lentera Logika di Beranda Negeri</title>
		<link>https://sei-news.com/opini/menyalakan-lentera-logika-di-beranda-negeri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Sei-News.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2026 05:11:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sei-news.com/?p=49282</guid>

					<description><![CDATA[Menyalakan Lentera Logika di Beranda Negeri Oleh: Imanuel Yanto Solle (Guru Matematika SMTK Manekat Se’i)...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left"><strong>Menyalakan Lentera Logika di Beranda Negeri</strong></p>
<p><em><strong>Oleh: Imanuel Yanto Solle (Guru Matematika SMTK Manekat Se’i)</strong></em></p>
<p>Bagaimana mungkin seorang murid mencintai matematika jika yang ia temui setiap hari hanyalah angka, rumus, dan soal yang terasa jauh dari kehidupannya?</p>
<p>Pertanyaan itu perlahan mengubah cara saya mengajar matematika di SMTK Manekat Se’i.</p>
<p>Pada awal mengajar, saya pernah berdiri di depan kelas, menulis sebuah rumus di papan tulis, lalu menjelaskannya langkah demi langkah. Saya merasa sudah menyampaikan materi dengan benar. Namun, ketika melihat wajah beberapa murid yang masih kebingungan, saya mulai menyadari bahwa menjelaskan materi dengan benar belum tentu membuat murid memahami.</p>
<p>Dari sana saya belajar bahwa persoalan pembelajaran matematika tidak selalu terletak pada kemampuan murid. Kadang-kadang, persoalannya justru ada pada jarak antara apa yang diajarkan dengan dunia yang mereka kenal.</p>
<p>Bagi sebagian murid saya, matematika masih menjadi pelajaran yang menakutkan. Pecahan, aljabar, geometri, dan berbagai rumus terasa seperti bahasa yang asing. Kondisi lingkungan tempat mereka belajar membuat tantangan itu semakin nyata. Keterbatasan buku, alat peraga, akses informasi, dan fasilitas pembelajaran menuntut guru untuk tidak hanya mengandalkan cara-cara yang tersedia di buku.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kepemimpinan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto dalam Spektrum dan Lanskap Polri Bersama Masyarakat dan Bhayangkara Negara</title>
		<link>https://sei-news.com/opini/kepemimpinan-kapolri-jenderal-suyudi-ario-seto-dalam-spektrum-dan-lanskap-polri-bersama-masyarakat-dan-bhayangkara-negara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Sei-News.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2026 00:31:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Kapolri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sei-news.com/?p=49274</guid>

					<description><![CDATA[Kepemimpinan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto dalam Spektrum dan Lanskap Polri Bersama Masyarakat dan Bhayangkara...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kepemimpinan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto dalam Spektrum dan Lanskap Polri Bersama Masyarakat dan Bhayangkara Negara</p>
<p><em>Penulis : Firman Jaya Daeli (Ketua Dewan Pembina Puspolkam Indonesia ; mantan Tim Perumus UU Kepolisian, UU Kejaksaan, UU Kehakiman, UU MA, UU MK, UU KY, UU Pertahanan Negara, UU Pemerintahan Daerah, UU KPK ; mantan Komisi Politik &amp; Hukum DPR-RI ; pernah menjadi Pembicara Lemhannas RI, Dosen Tamu Sespimti &amp; Sespimmen POLRI, Sesko TNI AL, Sesko TNI AU, PPPJ Badiklat Kejaksaan RI)</em></p>
<p><a href="https://sei-news.com/tag/opini"><strong>FHC</strong></a>, Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto mengusung dan menghadirkan narasi Polri Bersama Masyarakat menjadi sebuah Tema Utama dan Tema Besar dalam Upacara (Acara) Persidangan Komisi III DPR-RI. Tema strategis tersebut pada dasarnya dan sejatinya merupakan Tema Pengabdian Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto beserta keseluruhan Jajaran Polri. Intinya dan utamanya adalah dalam konteks dan dalam kerangka penyelenggaraan Tugas, Fungsi, Tanggungjawab, dan Kewenangan institusi Polri beserta Jajaran.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dari Murid yang Sulit Membaca hingga Berani Berpendapat: Apa yang Berubah di Kelas Saya?</title>
		<link>https://sei-news.com/pendidikan/dari-murid-yang-sulit-membaca-hingga-berani-berpendapat-apa-yang-berubah-di-kelas-saya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Sei-News.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2026 07:11:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sei-news.com/?p=49008</guid>

					<description><![CDATA[Dari Murid yang Sulit Membaca hingga Berani Berpendapat: Apa yang Berubah di Kelas Saya? Oleh:...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dari Murid yang Sulit Membaca hingga Berani Berpendapat: Apa yang Berubah di Kelas Saya?</strong></p>
<p><em><strong>Oleh: Aryani Udin, S.Pd., Gr. (</strong><strong>Guru SD Inpres Loli, Kab. Timor Tengah Selatan)</strong></em></p>
<p>Ada satu hal yang sering membuat saya berpikir setelah selesai mengajar: mengapa ada murid yang begitu cepat memahami pelajaran, sementara sebagian lainnya masih kesulitan membaca, menulis, bahkan memahami soal sederhana?</p>
<p>Pertanyaan itu semakin sering muncul selama saya mengajar kelas V di SD Inpres Loli, Kabupaten Timor Tengah Selatan.</p>
<p>Saya telah mengabdi sebagai guru selama kurang lebih dua tahun lima bulan. Dalam waktu yang relatif singkat itu, saya mulai memahami bahwa menjadi guru sekolah dasar bukan hanya persoalan menyampaikan materi sesuai jadwal pelajaran. Guru berhadapan dengan anak-anak yang datang ke kelas dengan kemampuan, pengalaman, kebiasaan, dan kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Di kelas saya, perbedaan itu terlihat dengan jelas.</p>
<p>Ada murid yang sudah mampu membaca dengan lancar, tetapi ada pula yang masih mengeja. Ada yang dapat memahami soal Matematika dengan cepat, tetapi ada yang masih kesulitan memahami maksud soal. Ada murid yang dengan percaya diri mengangkat tangan ketika guru bertanya, tetapi ada pula yang lebih memilih diam meskipun sebenarnya memiliki sesuatu yang ingin disampaikan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Saya Melarang Guru Membawa HP ke Dalam Kelas?</title>
		<link>https://sei-news.com/opini/mengapa-saya-melarang-guru-membawa-hp-ke-dalam-kelas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Sei-News.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2026 06:37:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sei-news.com/?p=48999</guid>

					<description><![CDATA[Mengapa Saya Melarang Guru Membawa HP ke Dalam Kelas? Oleh: Kaciani Tunliu, S.Pd., Gr. (Kepala...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mengapa Saya Melarang Guru Membawa HP ke Dalam Kelas?</strong></p>
<p><em><strong>Oleh: Kaciani Tunliu, S.Pd., Gr. (Kepala SD Negeri Mnesatanen, Kab. TTS)</strong></em></p>
<p><strong>SNC</strong> &#8211; Ada sebuah keputusan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi tidak mudah saya ambil sebagai kepala sekolah. Saya melarang guru membawa atau menggunakan telepon genggam (HP) selama mengajar di dalam kelas.</p>
<p>Keputusan itu tentu bukan karena saya menganggap teknologi sebagai sesuatu yang buruk. Saya memahami bahwa HP telah menjadi bagian penting dalam kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Melalui HP, guru dapat mencari bahan ajar, mengakses sumber belajar, menonton video edukasi, berkomunikasi, bahkan menemukan berbagai ide pembelajaran yang kreatif.</p>
<p>Namun, pengalaman saya memimpin sekolah di daerah 3T membuat saya melihat persoalan dari sisi yang berbeda. Teknologi memang dapat membantu pembelajaran, tetapi teknologi tidak otomatis membuat pembelajaran menjadi bermutu. Ada satu hal yang jauh lebih penting yakni kesiapan guru untuk mengajar.</p>
<p><strong>Ketika HP Menggeser Perhatian Guru</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KEMERDEKAAN YANG HARUS TERUS DIPERJUANGKAN</title>
		<link>https://sei-news.com/opini/kemerdekaan-yang-harus-terus-diperjuangkan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Sei-News.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2026 00:40:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sei-news.com/?p=48981</guid>

					<description><![CDATA[KEMERDEKAAN YANG HARUS TERUS DIPERJUANGKAN Oleh: Thomas Edison Kabu, S.Pd., Gr., CTMM., C.Ed., C.BE. (Guru,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KEMERDEKAAN YANG HARUS TERUS DIPERJUANGKAN</strong></p>
<p><em><strong>Oleh: Thomas Edison Kabu, S.Pd., Gr., CTMM., C.Ed., C.BE. (Guru, Penulis, dan Pegiat Literasi)</strong></em></p>
<p><strong>SNC</strong> &#8211; Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, sebuah pertanyaan patut kita ajukan: Apakah kita benar-benar sudah merdeka?</p>
<p>Pertanyaan ini bukan untuk meragukan kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan. Kita tentu merdeka sebagai sebuah bangsa. Kita tidak lagi hidup di bawah penjajahan. Namun, kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari kekuasaan bangsa lain. Kemerdekaan juga tentang kemampuan sebuah bangsa untuk berpikir, menentukan pilihan, membangun kehidupan, dan menentukan masa depannya sendiri.</p>
<p>Delapan puluh satu tahun bukan sekadar angka dalam perjalanan Indonesia. Di dalamnya ada perjuangan, pengorbanan, air mata, keberanian, dan harapan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.</p>
<p>Dulu, para pejuang mempertahankan kemerdekaan dengan bambu runcing dan senjata. Hari ini, bentuk perjuangannya telah berubah. Kita tidak lagi berada di medan perang, tetapi perjuangan tetap ada di ruang-ruang kehidupan: di sekolah, di rumah, di masyarakat, dan di tengah derasnya arus informasi.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Teman Baru Bernama Abjad: Ketika Huruf Menjadi Jalan Menuju Percaya Diri</title>
		<link>https://sei-news.com/opini/teman-baru-bernama-abjad-ketika-huruf-menjadi-jalan-menuju-percaya-diri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Sei-News.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2026 07:13:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sei-news.com/?p=48956</guid>

					<description><![CDATA[Teman Baru Bernama Abjad: Ketika Huruf Menjadi Jalan Menuju Percaya Diri Oleh: Marce D. Taneo,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Teman Baru Bernama Abjad: Ketika Huruf Menjadi Jalan Menuju Percaya Diri</strong></p>
<p><em><strong>Oleh: Marce D. Taneo, S.Pd., Gr. (Guru SD Inpres Tepas, Kab. TTS)</strong></em></p>
<p><strong>SNC</strong> &#8211; Menjadi guru kelas I selama 16 tahun mengajarkan saya bahwa setiap anak memiliki cerita, titik awal, dan kecepatan belajar yang berbeda. Ada anak yang dengan cepat mengenal huruf dan mulai membaca, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang dan pendekatan yang berbeda.</p>
<p>Pengalaman itu kembali saya temukan di kelas I SD Inpres Tepas, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dari 25 murid yang saya ajar, terdapat tujuh murid yang belum mengenal huruf abjad dengan baik.</p>
<p>Penemuan itu membuat saya bertanya dalam hati: bagaimana mungkin saya meminta mereka membaca jika huruf-huruf yang menjadi pintu menuju dunia pengetahuan saja belum mereka kenal?</p>
<p>Pertanyaan sederhana itulah yang kemudian menjadi awal perjalanan saya mencari cara agar abjad tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan bagi mereka, melainkan menjadi teman baru yang menyenangkan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Kelas Terlalu Diam: Mengubah Pembelajaran Pasif Menjadi Aktif dan Menyenangkan</title>
		<link>https://sei-news.com/opini/ketika-kelas-terlalu-diam-mengubah-pembelajaran-pasif-menjadi-aktif-dan-menyenangkan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Sei-News.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2026 02:37:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sei-news.com/?p=48950</guid>

					<description><![CDATA[Ketika Kelas Terlalu Diam: Mengubah Pembelajaran Pasif Menjadi Aktif dan Menyenangkan Oleh: Welmince Moy, S.Pd.,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ketika Kelas Terlalu Diam: Mengubah Pembelajaran Pasif Menjadi Aktif dan Menyenangkan</strong></p>
<p><em><strong>Oleh: Welmince Moy, S.Pd., Gr. (Guru SD Inpres Tepas, Kab. TTS)</strong></em></p>
<p><strong>SNC</strong> &#8211; <strong>Kelas yang Tenang, tetapi Tidak Benar-Benar Belajar</strong></p>
<p>Pernahkah kita merasa bahwa kelas yang tenang adalah tanda bahwa pembelajaran berjalan dengan baik?Saya pernah berpikir demikian.</p>
<p>Ketika mengajar kelas III di SD Inpres Tepas, saya pernah merasa cukup puas ketika murid duduk dengan tertib dan mendengarkan penjelasan saya. Saya menjelaskan materi, menulis di papan tulis, memberikan contoh, lalu memberikan tugas. Kelas tampak terkendali.</p>
<p>Namun, setelah saya mengamati lebih jauh, ketenangan itu justru menyimpan persoalan.</p>
<p>Ketika saya mengajukan pertanyaan, hanya beberapa murid yang berani mengangkat tangan. Sebagian besar memilih diam. Ketika diberikan tugas, beberapa murid terlihat kurang bersemangat. Ada yang berbicara dengan teman, ada pula yang melakukan aktivitas lain.</p>
<p>Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri: Apakah murid saya memang tidak memiliki motivasi belajar, atau jangan-jangan cara saya mengajar belum memberi mereka cukup ruang untuk belajar secara aktif?</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Menulis Terasa Menjadi Beban: Mengubah Cara Mengajar, Mengubah Pengalaman Belajar</title>
		<link>https://sei-news.com/opini/ketika-menulis-terasa-menjadi-beban-mengubah-cara-mengajar-mengubah-pengalaman-belajar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Sei-News.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2026 14:09:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sei-news.com/?p=48944</guid>

					<description><![CDATA[Ketika Menulis Terasa Menjadi Beban: Mengubah Cara Mengajar, Mengubah Pengalaman Belajar Oleh: Antonia, S.Pd., Gr....]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ketika Menulis Terasa Menjadi Beban: Mengubah Cara Mengajar, Mengubah Pengalaman Belajar</strong></p>
<p><em><strong>Oleh: Antonia, S.Pd., Gr. (</strong></em><em><strong>Guru SD Inpres Tepas, Kab. TTS)</strong></em></p>
<p><strong>SNC</strong> &#8211; Menulis seharusnya menjadi salah satu cara bagi murid untuk menyampaikan apa yang mereka pikirkan, rasakan, dan pahami. Namun, bagaimana jika kegiatan menulis justru terasa seperti beban?</p>
<p>Pertanyaan itulah yang muncul dalam pengalaman saya mengajar di SD Inpres Tepas, Desa Tupan, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Selama dua tahun mengabdi di sekolah ini sebagai guru Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti, saya belajar bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan materi. Lebih dari itu, guru perlu memahami bagaimana murid belajar, apa yang mereka rasakan, serta apa yang menyebabkan mereka mengalami kesulitan.</p>
<p>Salah satu pengalaman yang paling mendorong saya untuk berefleksi terjadi ketika saya menemukan sebagian besar murid kelas V enggan menulis. Pada awalnya, saya berpikir sederhana: mereka malas.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
