Lalu, bagaimana seharusnya kita memperlakukan keterbatasan itu?
Bagi saya, tugas kita, baik sebagai pengagum kebudayaan maupun sebagai pendidik, bukanlah menghapus keterbatasan agar segala sesuatu tampak seragam. Tugas mulia kita adalah mengenali, menerima, dan memolesnya. Memoles daerah berarti menemukan intan di balik kekayaan lokalitasnya, kemudian memberinya ruang untuk bersinar. Memoles murid berarti menerima keunikan karakternya, membangkitkan rasa ingin tahunya, serta membimbingnya agar mampu menemukan dan mengembangkan potensi terbaik dalam dirinya.
Pada akhirnya, saya sampai pada sebuah kesadaran bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi lawan dari keunggulan. Terkadang, justru melalui keterbatasanlah sebuah keunikan menemukan bentuknya. Sebuah daerah tidak harus memiliki segala sesuatu untuk menjadi istimewa. Demikian pula seorang murid tidak harus menguasai semua bidang untuk memiliki masa depan yang bermakna.
Guru yang buruk hanya melihat lumpur dan mengutuk kekotorannya, sementara guru sejati melihat lumpur dan membayangkan tembikar indah yang sedang menunggu untuk dibentuk. Ungkapan ini mengingatkan saya bahwa pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengajar. Pendidikan membutuhkan kesabaran untuk memahami, kebijaksanaan untuk menerima, dan kasih untuk mendampingi setiap proses pertumbuhan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








