Namun, semakin saya mengamati proses pembelajaran, semakin saya merasa bahwa kesimpulan tersebut terlalu terburu-buru.
Ketika Murid Tidak Menulis, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Saya kemudian mencoba melihat kembali pembelajaran yang selama ini saya lakukan. Saya menyadari bahwa kegiatan belajar masih cukup banyak berpusat pada guru. Murid mendengarkan penjelasan, mencatat, mengerjakan tugas, dan menerima informasi yang saya sampaikan. Dalam situasi seperti itu, menulis akhirnya lebih sering hadir sebagai perintah daripada kebutuhan.
Murid diminta menulis karena guru mengatakan, “Tuliskan!” Mereka mencatat karena itu bagian dari tugas. Akibatnya, kegiatan menulis belum menjadi bagian dari proses berpikir mereka.
Saya juga menemukan beberapa persoalan lain. Murid mudah merasa jenuh dan lelah. Mereka belum terbiasa mengembangkan gagasan secara runtut dan terstruktur. Ketika diminta menulis, masih ada yang menulis tidak beraturan, bahkan melewati garis buku. Beberapa murid juga kesulitan membaca kembali tulisan mereka sendiri.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
