Pengalaman sederhana di kelas V tersebut mengajarkan saya bahwa guru tidak boleh berhenti pada apa yang terlihat. Ketika murid tidak fokus, jangan buru-buru memberi label. Ketika murid gagal, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ia tidak mampu. Ketika murid tertinggal, jangan langsung membandingkannya dengan teman-temannya.
Berhentilah sejenak. Amati. Tanyakan. Asesmen. Dampingi.
Mungkin masalahnya bukan pada kemauan murid untuk belajar. Mungkin ia hanya membutuhkan guru yang bersedia kembali ke dasar, menemukan bagian yang belum dipahami, lalu membantunya melangkah sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, saya memahami bahwa terkadang mengubah satu pertanyaan dapat mengubah seluruh cara kita mengajar. Dan ketika cara guru mengajar berubah, bisa jadi cara seorang murid memandang dirinya sendiri pun ikut berubah. Dari “Saya tidak bisa” menjadi “Saya bisa.”*
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
