Karena itu, saya mulai bertanya kepada diri sendiri: Mengapa matematika harus selalu dimulai dari rumus? Bukankah kita bisa memulainya dari kehidupan mereka?
Pertanyaan sederhana itu kemudian membawa saya pada satu keyakinan: matematika harus dibumikan.
Ketika Matematika Turun dari Papan Tulis
Matematika sebenarnya tidak pernah benar-benar jauh dari kehidupan murid. Hanya saja, terkadang kita terlalu sibuk memperkenalkannya melalui rumus hingga lupa menunjukkan wajahnya dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika membicarakan peluang, misalnya, saya tidak harus selalu menggunakan dadu atau kartu sebagai contoh. Saya dapat mengajak murid berbicara tentang hasil panen, jumlah ternak, atau kemungkinan pembagian sesuatu di lingkungan mereka.
Begitu pula ketika belajar geometri. Kami dapat melihat lingkungan sekitar sebagai ruang belajar. Bayangan pohon dapat menjadi bahan pengamatan. Kemiringan atap sekolah dapat menjadi contoh. Pola anyaman tradisional dapat mengantarkan murid pada konsep simetri.
Dengan cara seperti itu, matematika perlahan turun dari papan tulis dan berjalan ke tengah kehidupan mereka.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
