Seolah hanya orang yang sama, yang sudah dipercayakan di legislatif, malah kini kembali lagi merambah kekuasaan eksekutif. Ini sebuah gambaran peradaban politik yang jauh dari etika – moral – budaya sopan santun, tata kerama kehidupan bersama. Terkesan rakus dan serakah, menganggap orang lain rendah, bodoh, tidak mampuh, seolah hanya mereka yang bisa.
Mengahadapai hajatan politik pilkada propinsi atau pun kabupaten harus memelekan mata hati para pemilih untuk memilih pemimpin yang punya kesopanan, menghormati dan menghargai orang lain juga. Jangan merasa diri paling hebat, paling mampu, paling bisa. Dengan langkah seperti ini, sesungguhnya kita sedang menganggap rendah orang lain.
Mundurnya Melki-Ansy dari dunia legislatif yang telah mendapatkan mandat masyarakat Timor, dapil NTT II lalu kembali maju menjadi calon gubernur-wakil gubernur Nusa Tenggara Timur sesungguhnya sebuah bentuk pengkhianatan terhadap masyarakat Timor dan sekutunya yang telah memberikan dukungannya. Kalau mereka berdua berkeinginan untuk maju dalam pilkada propinsi, maka secara etik moral dan peradaban budaya, seharusnya mereka berdua urung maju dalam pemilihan legislatif kemarin.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
