Teknologi dapat memberikan jawaban dengan cepat. Namun, kecepatan tersebut tidak selalu sejalan dengan kedalaman proses berpikir.
Menurut Lasarus, dominasi algoritma dalam masyarakat data berpotensi menggeser otoritas pengetahuan ke platform digital.
“Terjadi erosi pada proses berpikir mendalam akibat logika komputasional yang serba instan. Kebenaran kini sering kali diukur dari viralitas platform, bukan kedalaman akademis,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut harus diantisipasi melalui penguatan kebiasaan membaca mandiri dan diskusi kritis.
Mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk mempertanyakan informasi, memeriksa sumber, membandingkan perspektif, dan menyusun kesimpulan berdasarkan argumentasi.
Tanpa kemampuan tersebut, AI berisiko membuat mahasiswa menjadi pengguna informasi secara pasif.
Perubahan tersebut memiliki konsekuensi khusus bagi pendidikan sosiologi.
Sosiologi tidak hanya membutuhkan kemampuan mengumpulkan informasi, tetapi juga kemampuan memahami konteks sosial, membaca hubungan antarkelompok, serta menginterpretasikan perubahan masyarakat.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








