Ia mencontohkan sejumlah sekolah GMIT di daerah minoritas seperti Ende, Timor Tengah Utara, Alor, Rote, dan Sabu Raijua yang mampu menunjukkan prestasi membanggakan. Bahkan, beberapa yayasan pendidikan telah berhasil membangun kemandirian dalam pembiayaan operasional sekolah.
“Ini membuktikan bahwa jika dikelola dengan baik, sekolah-sekolah kita mampu berkembang dan memperoleh kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Pdt. Samuel, kualitas peserta didik sangat ditentukan oleh kualitas guru.
“Kalau anak-anak kita hebat, itu adalah cerminan dari guru-gurunya. Karena itu peningkatan kapasitas guru harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan komitmen Sinode GMIT agar pada tahun 2028 sekolah-sekolah GMIT semakin mandiri, baik dari sisi tata kelola maupun pembiayaan, sehingga siap menghadapi sistem sentralisasi pengelolaan sekolah.
“Kita ingin pada tahun 2028 sekolah-sekolah GMIT semakin mandiri. Ke depan, GMIT tidak hanya mampu membiayai pelayanan gereja, tetapi juga mampu memperhatikan kesejahteraan para guru. Pendidikan harus menjadi kekuatan pelayanan gereja,” katanya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
