Di era ketika foto, video, hingga suara dapat direkayasa dengan sangat meyakinkan, kemampuan berpikir kritis menjadi keterampilan yang sama pentingnya dengan kemampuan menggunakan teknologi itu sendiri.
Melalui sesi tersebut, mahasiswa diajak untuk tidak menerima informasi secara mentah. Mereka dilatih mengenali ciri-ciri konten manipulatif, memahami risiko deepfake, serta membangun kebiasaan memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Apa yang dilakukan Arleen sesungguhnya mencerminkan perubahan paradigma dalam pendidikan digital. Jika sebelumnya fokus utama literasi teknologi adalah kemampuan mengoperasikan perangkat dan aplikasi, kini tantangannya jauh lebih kompleks. Generasi muda harus mampu membedakan fakta dan manipulasi di tengah banjir informasi yang diproduksi oleh mesin cerdas.
Namun misi Arleen tidak berhenti pada aspek keamanan siber. Selama lebih dari satu bulan, ia menginisiasi enam rangkaian kegiatan yang melibatkan lebih dari 100 mahasiswa lintas program studi di Undana.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
