Wilayah-wilayah tersebut memiliki banyak kesamaan dengan NTT, mulai dari karakteristik kepulauan, tantangan perubahan iklim, kondisi lahan kering, hingga persoalan pembangunan masyarakat pesisir dan pedesaan.
Karena itu, kolaborasi riset yang dibangun diharapkan tidak berhenti pada publikasi ilmiah semata, tetapi mampu menghasilkan solusi konkret yang dapat diterapkan langsung di masyarakat.
Selama ini, sebagian perguruan tinggi di daerah sering kali mengadopsi model kerja sama yang terlalu berorientasi pada negara-negara maju di belahan bumi utara. Meski memiliki nilai akademik yang tinggi, kerja sama tersebut tidak selalu menghasilkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
Pendekatan yang diusung Prof. Philip menawarkan perspektif berbeda. Ia ingin menjadikan Undana sebagai bagian dari jaringan kerja sama Selatan-Selatan yang berfokus pada pertukaran pengetahuan antarwilayah yang memiliki karakteristik serupa.
Melalui pendekatan tersebut, peluang untuk mengembangkan riset tentang perubahan iklim, ketahanan pangan, energi terbarukan, pengelolaan sumber daya alam, dan pembangunan masyarakat kepulauan diyakini akan semakin terbuka.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









