Ia menambahkan, keberhasilan memperoleh kuota KIP Kuliah tidak terlepas dari perencanaan yang matang serta kolaborasi yang dibangun universitas dengan berbagai pemangku kepentingan.
Kampus sebagai Ruang Mobilitas Sosial
Uly menegaskan, UPG 1945 NTT ingin menempatkan kampus sebagai ruang mobilitas sosial, di mana mahasiswa dari latar belakang ekonomi terbatas tetap memiliki peluang yang sama untuk berkembang dan berprestasi.
Menurut dia, pendekatan tersebut sejalan dengan visi universitas sebagai lembaga pendidikan guru yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pengabdian sosial.
“Pendidikan tinggi tidak boleh menjadi ruang yang eksklusif. Kampus harus hadir sebagai rumah bersama yang memberi harapan,” katanya.
Ia juga mengajak mahasiswa penerima KIP Kuliah untuk memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sungguh-sungguh, menyelesaikan studi tepat waktu, serta mengembangkan potensi diri melalui berbagai kegiatan akademik dan nonakademik.
Dalam mewujudkan perluasan akses pendidikan, Uly menekankan pentingnya perencanaan jangka panjang dan kolaborasi lintas sektor. UPG 1945 NTT, kata dia, telah menyusun rencana pengembangan institusi yang terintegrasi dengan upaya peningkatan mutu akademik, penguatan sumber daya manusia, serta kerja sama dengan pemerintah daerah dan lembaga nasional.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
