Menurutnya, dunia kerja dan kehidupan sosial saat ini menuntut lulusan perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, memimpin, dan beradaptasi dengan perubahan.
Karena itu, ia menawarkan formula pengembangan mahasiswa dengan komposisi 60 persen penguatan kapasitas kognitif dan 40 persen pengembangan soft skill.
“Karena kita adalah universitas, maka fondasinya adalah 60 persen kognitif dan 40 persen soft skill. Penataan kemahasiswaan ke depan akan didominasi oleh kegiatan-kegiatan yang merepresentasikan kombinasi kedua hal tersebut,” ujarnya.
Gagasan tersebut lahir dari pengamatan terhadap dinamika kemahasiswaan yang selama ini cenderung terbelah ke dalam dua kutub. Di satu sisi terdapat mahasiswa yang unggul secara akademik tetapi kurang terampil dalam komunikasi dan kepemimpinan. Di sisi lain terdapat mahasiswa yang aktif berorganisasi namun belum optimal dalam prestasi akademik.
Menurut Dr. Rudi, kedua kemampuan tersebut seharusnya berjalan beriringan. Kampus perlu menghadirkan ruang yang memungkinkan mahasiswa berkembang secara utuh sebagai insan intelektual sekaligus pemimpin masa depan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









