Ia juga menekankan bahwa kegiatan pendampingan yang berlangsung selama dua hari tersebut diharapkan tidak menjadi kegiatan yang berhenti sampai di sini. Sebaliknya, perlu ada keberlanjutan melalui program-program literasi yang terencana agar budaya membaca dan menulis benar-benar menjadi bagian dari kehidupan warga sekolah.
Menurutnya, ekosistem literasi sekolah akan hidup apabila seluruh warga sekolah memiliki keterlibatan dan komitmen bersama. Guru berperan sebagai penggerak dan pendamping, sementara murid menjadi subjek utama yang terus didorong untuk membaca, berpikir, berkreasi, dan menghasilkan karya.
“Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti pada pendampingan selama dua hari saja. Perlu ada tindak lanjut dan kegiatan-kegiatan serupa secara berkelanjutan sehingga ekosistem literasi di SMA Negeri Noebana benar-benar hidup. Anak-anak harus terus diberi ruang dan kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka melalui membaca dan menulis,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, kolaborasi SMA Negeri Noebana dan Forum TBM Kabupaten TTS menjadi salah satu langkah konkret dalam memperkuat gerakan literasi di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan. Lebih dari sekadar pendampingan penulisan kreatif, kegiatan ini membawa pesan bahwa membangun generasi yang cerdas, kreatif, dan berdaya saing membutuhkan budaya literasi yang kuat serta dukungan bersama dari berbagai elemen pendidikan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
