Menurutnya, pendidikan yang berkualitas, terutama di bidang literasi, menjadi jalan utama untuk memberdayakan masyarakat.
“Setiap anak, tanpa memandang latar belakang sosial, agama, atau geografis, memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas. Literasi adalah pintu gerbang untuk mencapai hal tersebut,” ujar Sugi.
Krisis Literasi di Indonesia
Dalam konteks Indonesia, terutama di daerah-daerah seperti NTT, tantangan literasi masih sangat besar. Hironimus Sugi menyoroti laporan mengenai rendahnya tingkat literasi di Indonesia, yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari rendahnya kemampuan berpikir kritis hingga lemahnya daya saing di pasar tenaga kerja.
“Data menunjukkan bahwa masih banyak siswa di tingkat sekolah dasar yang belum mampu membaca dengan baik. Ini adalah sebuah krisis yang harus segera diatasi, karena literasi menjadi syarat mutlak bagi setiap bentuk pendidikan lanjut,” ungkapnya.
Sugi mengungkapkan bahwa rendahnya tingkat literasi berpotensi memperlambat kemajuan sosial-ekonomi di daerah-daerah seperti NTT, di mana akses terhadap buku dan sumber belajar masih sangat terbatas. Hal ini semakin diperparah dengan tingginya angka putus sekolah dan minimnya fasilitas pendidikan yang memadai.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









