Menurut Naldy, sapaan akrabnya, kehadiran TBM Mafeinekan menjadi salah satu upaya mendekatkan buku kepada anak-anak di wilayah pedesaan. Dengan akses bacaan yang tersedia, anak-anak memiliki kesempatan untuk mengenal berbagai ilmu pengetahuan dan menumbuhkan kecintaan terhadap budaya membaca.
Ia menambahkan, pendampingan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca, tetapi juga melatih anak-anak untuk memahami isi bacaan, berani menyampaikan pendapat, dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi.
“Literasi bukan hanya soal membaca tulisan, tetapi juga bagaimana anak-anak mampu memahami informasi dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, kami terus mendorong mereka untuk aktif membaca dan berdiskusi,” tambahnya.
Kegiatan literasi yang digelar TBM Mafeinekan mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat. Orang tua merasa terbantu karena anak-anak dapat memanfaatkan waktu liburan dengan kegiatan yang edukatif dan jauh dari aktivitas yang kurang produktif.
Harven Banunaek, salah satu orang tua peserta mengaku senang dengan keberadaan TBM Mafeinekan karena memberikan ruang belajar yang nyaman bagi anak-anak di desa.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
