Anggota tim, Dominikus Arcarius Depha Daki, menjelaskan bahwa pengembangan Kompiang Kelor merupakan hasil evaluasi dari inovasi sebelumnya berupa mi kelor. Setelah melakukan riset pasar, mereka menemukan bahwa masyarakat lebih mudah menerima produk roti sebagai makanan ringan maupun pendamping sarapan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa inovasi pangan tidak cukup hanya mengandalkan nilai gizi, tetapi juga harus mempertimbangkan preferensi konsumen. Produk yang sehat harus mampu diterima oleh masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas.
Saat ini, tim Sahabat Kelor tengah menyempurnakan kualitas produk sekaligus mengurus legalitas usaha berupa Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal. Produk tersebut juga sudah mulai dipasarkan melalui sistem pre-order serta dijual di kawasan Car Free Day Kupang.
Keberadaan Kompiang Kelor menjadi contoh bagaimana komoditas lokal yang selama ini melimpah di NTT dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Jika dikembangkan secara berkelanjutan, inovasi ini berpotensi membuka peluang usaha baru bagi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Kampus Melahirkan Wirausaha Muda Berdampak
Keberhasilan dua tim mahasiswa Undana dalam P2MW 2026 menunjukkan perubahan paradigma pendidikan tinggi di Indonesia. Kampus tidak lagi hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang inkubasi bagi lahirnya wirausaha muda yang mampu menciptakan solusi atas berbagai persoalan sosial.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
