Sebagian siswa masih menggunakan ruang belajar semi permanen yang dibangun melalui gotong royong masyarakat sekitar 2015–2016. Kondisinya ditandai atap rendah, dinding tipis dan berlubang, serta keterbatasan yang membuat suara antarkelas mudah terdengar.
Bagi siswa seperti Carla, keadaan tersebut menjadi bagian dari pengalaman belajar yang harus dihadapi setiap hari.
Belajar di tengah keterbatasan
Tidak ada yang salah dengan tuntutan agar siswa berkonsentrasi ketika guru menjelaskan pelajaran. Namun, konsentrasi bukan hanya perkara kemauan. Lingkungan belajar turut menentukan seberapa baik siswa dapat menyimak, membaca, berdiskusi, dan memahami materi.
Ketika ruangan terasa panas, siswa harus tetap berusaha mengikuti pembelajaran. Ketika suara dari kelas lain terdengar, perhatian mereka berpotensi terpecah. Sementara itu, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan sesuai kebutuhan sekolah.
Kisah Carla membawa perhatian pada pengalaman siswa yang sering kali tidak terlihat dalam angka-angka pembangunan. Data tentang jumlah ruang kelas dapat menunjukkan kekurangan fasilitas, tetapi suara siswa menjelaskan bagaimana kekurangan itu dirasakan dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
