Dalam metodologi statistik, NTP adalah rasio antara Indeks Harga yang Diterima Petani (It) dan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib). November 2025 mencatat It turun 0,11 persen, sementara Ib justru naik 0,13 persen. Selisih kecil ini cukup untuk menggerus daya beli petani di perdesaan.
Bagi petani kecil, pergeseran indeks ini bukan sekadar grafik atau tabel. Ia menjelma dalam bentuk harga beras yang sedikit lebih mahal, ongkos transportasi hasil panen yang naik, serta biaya pupuk dan kebutuhan rumah tangga yang terus merayap naik.
“Petani itu tidak hidup dari satu komoditas saja. Ketika harga hasil panen stagnan atau turun, sementara biaya konsumsi rumah tangga naik, maka tekanan ekonomi langsung terasa,” kata Matamira.
Kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 0,15 persen pada November 2025 memperkuat gambaran tersebut. Enam kelompok pengeluaran—mulai dari makanan, pakaian, kesehatan, hingga transportasi—mengalami kenaikan. Bagi rumah tangga petani, ini berarti hasil panen harus dibagi semakin tipis antara kebutuhan produksi dan kebutuhan hidup.
Tidak Semua Petani Mengalami Hal yang Sama
Data BPS menunjukkan bahwa penurunan NTP tidak terjadi secara merata. Subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami penurunan paling dalam, yakni 2,76 persen, dipicu turunnya harga kakao, jambu mete, dan kemiri. Subsektor perikanan juga turun 0,45 persen, terutama pada perikanan budidaya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
