<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Demokrasi Indonesia &#8211; Sei News</title>
	<atom:link href="https://sei-news.com/tag/demokrasi-indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sei-news.com</link>
	<description>Sumber Utama Informasi Anda!</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 Feb 2025 04:08:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.1</generator>

<image>
	<url>https://sei-news.com/wp-content/uploads/2024/02/512-100x75.jpg</url>
	<title>Demokrasi Indonesia &#8211; Sei News</title>
	<link>https://sei-news.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>KPU Undang Media! FGD Evaluasi Pilkada 2024, Ada Perubahan Besar?</title>
		<link>https://sei-news.com/politik/kpu-undang-media-fgd-evaluasi-pilkada/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Sei-News.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Feb 2025 04:05:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Evaluasi Pemilu 2024]]></category>
		<category><![CDATA[FGD Pilkada 2024]]></category>
		<category><![CDATA[KPU NTT]]></category>
		<category><![CDATA[KPU Undang Media]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu 2029]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Pilkada]]></category>
		<category><![CDATA[Pilgub NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi Pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[Transparansi Pemilu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sei-news.com/?p=44949</guid>

					<description><![CDATA[SN, Kupang – Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kupang, Nichson Manggoa, membuka secara resmi...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="https://sei-news.com/tag/kpu">SN</a>, Kupang</strong> – Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kupang, Nichson Manggoa, membuka secara resmi kegiatan Forum Group Discussion (FGD) untuk evaluasi tahapan Pilkada 2024.</p>
<p>Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya evaluasi dan perbaikan dalam penyelenggaraan pemilu agar ke depan proses demokrasi di Kabupaten Kupang semakin berkualitas.</p>
<p>Acara yang diadakan di Hotel Neo Eltari, Kupang, ini mengundang berbagai pemangku kepentingan, termasuk pimpinan media elektronik, untuk membahas jalannya Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur serta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kupang.</p>
<p>FGD ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan Pilkada 2024, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, serta merancang perbaikan guna meningkatkan kualitas pemilu mendatang.</p>
<p>Ketua KPU, Nichson Manggoa, dalam sambutannya menegaskan bahwa forum ini bukan hanya sekadar diskusi, tetapi juga langkah nyata dalam membangun sistem pemilu yang lebih baik.</p>
<h2>Evaluasi dan Tantangan Pilkada 2024</h2>
<p>Dalam diskusi, beberapa tantangan utama yang dihadapi selama Pilkada 2024 ikut dibahas, di antaranya:</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mahkamah Konstitusi Cabut Presidential Threshold, Meningkatkan Keragaman Calon Presiden di Pemilu 2029</title>
		<link>https://sei-news.com/tak-berkategori/mahkamah-konstitusi-cabut-presidential-threshold-meningkatkan-keragaman-calon-presiden-di-pemilu-2029/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Sei-News.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jan 2025 02:13:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Hapus Presidential Threshold]]></category>
		<category><![CDATA[Keragaman Calon Presiden]]></category>
		<category><![CDATA[Mahkamah Konstitusi]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Politik Pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[Pasal 222 UU Pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu 2029]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pencalonan Presiden 2029]]></category>
		<category><![CDATA[Presidential Threshold]]></category>
		<category><![CDATA[Putusan MK]]></category>
		<category><![CDATA[Sistem Presidensial Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sei-news.com/?p=44021</guid>

					<description><![CDATA[SN, Mahkamah Konstitusi (MK) mengeluarkan putusan penting yang menghapuskan aturan presidential threshold (PT) dalam Pemilu....]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>SN,</b> <a href="https://sei-news.com/tag/politik">Mahkamah Konstitusi (MK)</a> mengeluarkan putusan penting yang menghapuskan aturan presidential threshold (PT) dalam Pemilu. Aturan ini sebelumnya mengharuskan calon presiden dan calon wakil presiden untuk memperoleh minimal 20% kursi di DPR atau 25% suara sah pada pemilu legislatif sebelumnya untuk dapat mencalonkan diri. Dengan dicabutnya PT, Pemilu 2029 diperkirakan akan menjadi ajang yang lebih terbuka dan beragam bagi calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).</p>
<p>Putusan ini dibacakan oleh Ketua MK, Suhartoyo, dalam perkara 62/PUU-XXI/2023. MK menilai bahwa Pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, yang mengatur presidential threshold, bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar demokrasi yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Menurut MK, aturan ini telah menghambat keragaman dan kebebasan dalam proses pencalonan capres dan cawapres.</p>
<h3><strong>Penghapusan PT dan Dampaknya pada Pemilu 2029</strong></h3>
<p>Keputusan MK ini diharapkan akan membuka peluang bagi lebih banyak partai politik untuk mencalonkan calon presiden dan wakil presiden tanpa harus memenuhi persyaratan persentase kursi di DPR atau suara sah dari pemilu sebelumnya. Ini berarti bahwa, jika jumlah partai politik peserta Pemilu 2029 mencapai 30, maka sebanyak 30 pasangan calon presiden dan wakil presiden dapat maju.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengamat Hukum Tata Negara Titi Angraini: Pembahasan UU Pilkada, Buang-buang Waktu dan Energi Rakyat!</title>
		<link>https://sei-news.com/hukum-kriminal/pengamat-hukum-tata-negara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Sei-News.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Aug 2024 00:10:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pembahasan UU Pilkada]]></category>
		<category><![CDATA[Putusan MK]]></category>
		<category><![CDATA[Revisi UU Pilkada**]]></category>
		<category><![CDATA[Titi Angraini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://sei-news.com/?p=42543</guid>

					<description><![CDATA[SN &#8211; Pengamat Hukum Tata Negara, Titi Angraini, mengkritik keras proses pembahasan revisi Undang-Undang Pilkada...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://sei-news.com/tag/sei-news"><strong>SN</strong></a> &#8211; Pengamat Hukum Tata Negara, Titi Angraini, mengkritik keras proses pembahasan revisi Undang-Undang Pilkada yang batal diputuskan oleh DPR. Menurut Titi, proses ini hanya membuang-buang waktu, energi, dan dana publik yang berasal dari pajak rakyat.</p>
<p>Titi menegaskan, jika sejak awal para legislator patuh terhadap konstitusi dan menjalankan nilai-nilai demokrasi dengan benar, waktu dan tenaga yang terbuang dalam pembahasan ini bisa dihindari.</p>
<p>&#8220;Kita adalah negara demokrasi yang berdaulat di tangan rakyat. Jika teladan konstitusi dijalankan dengan baik, tidak perlu ada dinamika yang menguras energi kita,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Ia juga menyoroti bahwa putusan Mahkamah Konstitusi (MK) bersifat final dan mengikat, namun diabaikan oleh beberapa pihak.</p>
<p>&#8220;Putusan MK bukan sesuatu yang baru dalam praktik ketatanegaraan kita. Namun, ada institusi yang mencoba menginterpretasikan ulang putusan tersebut. Ini adalah pembelajaran hukum yang buruk,&#8221; tambah Titi.</p>
<p>Dalam pandangannya, keputusan MK Nomor 60 dan 70 memberikan harapan bagi demokrasi Indonesia, khususnya terkait Pilkada. Titi menyebut putusan ini sebagai &#8220;oase di tengah kemarau demokrasi&#8221; yang menyegarkan praktik demokrasi di Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
