Latihan dilakukan rutin tiga kali dalam seminggu. Di lapangan sederhana itulah mereka belajar menggiring bola, mengatur strategi, serta memahami peran masing-masing dalam tim. Namun, bagi sang guru, teknik bermain bukanlah satu-satunya tujuan.
Nilai disiplin, kerja sama, tanggung jawab, dan sportivitas menjadi penekanan utama. Anak-anak dibiasakan datang tepat waktu, saling menyemangati, serta menerima hasil pertandingan dengan sikap dewasa.
“Menang itu penting, tapi sikap saat bermain jauh lebih penting,” katanya.
Menyeimbangkan latihan dengan kewajiban akademik juga menjadi perhatian. Jadwal latihan diatur agar tidak mengganggu jam belajar. Anak-anak bahkan didorong tetap serius di kelas. Baginya, prestasi olahraga harus berjalan seiring dengan pendidikan.
Tantangan tentu ada. Melatih anak usia SD membutuhkan kesabaran ekstra. Konsentrasi mereka mudah teralihkan, emosi masih labil, dan semangat kadang naik turun. Namun semua itu tidak mematahkan semangat.
“Yang penting anak-anak punya kemauan. Karena fasilitas telah tersedia, tapi semangat harus terus dijaga,” tuturnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
