Dukungan juga datang dari Walikota Kupang, Christian Widodo, yang menegaskan bahwa inisiatif GMIT merupakan gerakan pertama di Indonesia yang secara sistematis menata gereja agar ramah disabilitas.
“Pemerintah Kota Kupang mendukung penuh gerakan GMIT ini karena sejalan dengan visi kami menjadikan Kupang sebagai kota yang ramah bagi semua orang, tanpa diskriminasi,” ungkapnya.
Workshop Gereja Ramah Disabilitas ini menjadi momentum penting bagi NTT untuk mempertegas posisinya sebagai pelopor gerakan inklusivitas di Indonesia Timur. Gerakan ini bukan hanya tentang akses fisik, tetapi juga perubahan cara pandang – dari belas kasihan menuju penerimaan dan pemberdayaan.
Bupati Yosef Lede menutup sambutannya dengan kalimat penuh makna:
“Kita semua dipanggil bukan untuk mengasihani, tetapi untuk mengasihi. Inklusivitas adalah bukti bahwa kasih Tuhan bekerja di tengah kita.”
Gerakan Kupang dan GMIT untuk membangun ruang yang ramah disabilitas menjadi bukti nyata bahwa iman dan kemanusiaan dapat berjalan seiring, membawa harapan baru bagi masyarakat yang setara, manusiawi, dan penuh kasih.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
