“Membangun Kabupaten Kupang tidak cukup dengan infrastruktur. Kita butuh iman yang kokoh, mental yang kuat, dan spiritualitas yang hidup. Di sinilah peran Gereja menjadi tak tergantikan,” jelasnya.
Ia berharap, momen KKR ini menjadi api yang menyala dalam hati setiap umat untuk terus melayani, mengasihi, dan menjaga solidaritas sosial.
Acara KKR malam itu ditutup dengan doa bersama, pujian pengharapan, dan pembagian kasih kepada masyarakat. Tidak ada yang pulang dengan tangan kosong, karena semua membawa pulang sesuatu—entah kekuatan batin, semangat baru, atau sekantong beras kasih dari sesama.
Di tengah tantangan hidup yang kian berat, pemimpin dan gereja menyatu dalam suara dan gerakan, memberi arah baru bagi masyarakat Amarasi. Dan seperti dikatakan Yosef Lede, “KKR ini menghadirkan gereja yang utuh—yang melayani seluruh aspek kehidupan Jemaat.”
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
