“Saya mengharapkan agar budidaya perkebunan di NTT mulai mengadopsi teknologi terbaru dan menerapkan praktik pengelolaan terbaik. Tidak hanya berhenti pada produksi, tetapi juga hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk perkebunan,” ujar Melki.
Lebih lanjut, Gubernur menekankan pentingnya peran kelompok tani dalam pengelolaan komoditas perkebunan seperti kelapa, mente, dan kemiri yang menjadi andalan masyarakat NTT.
Senator AWK Dorong Hilirisasi Perkebunan
Wakil Ketua Komite II DPD RI sekaligus Senator asal NTT, Angelius Wake Kako (AWK), dalam sambutannya menyoroti bahwa pengelolaan sektor perkebunan di NTT masih didominasi oleh orientasi produksi bahan mentah tanpa proses hilirisasi.
“Pengelolaan perkebunan di NTT masih berbasis barang mentah. Hilirisasi adalah kunci untuk meningkatkan nilai tambah, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan petani,” tegas AWK.
Ia mendorong agar produk unggulan NTT seperti kelapa, mente, dan kemiri diolah menjadi produk jadi sebelum diekspor, sehingga memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi masyarakat lokal.
Perjuangan Anggaran Rp 94 Miliar
Dalam pertemuan tersebut, terungkap bahwa Pemerintah Provinsi NTT telah mengusulkan anggaran lebih dari Rp 94 miliar kepada pemerintah pusat guna mendukung program swasembada pangan dan pengembangan sektor perkebunan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
