Seminar Nasional Untuk Sang Mutiara Timur yang Terlupakan “Herman Yoseph Fernandez”

mutiara

Baru satu tahun merajuk asa dengan belajar di sekolah bergengsi kala itu, Herman Yoseph Fernandez sudah dihadapkan dengan kenyataan pahit, karena HIK Muntilan harus di tutup akibat pendudukan Jepang di pulau jawa pada 1942.

Herman dan teman-temannya dipaksa menjadi Seinendan dan Keibodan untuk membantu tentara Jepang melawan sekutu dalam perang dunia ke 2, pada tahun 1943 ia dipaksa bekerja sebagai Romusha di tambang batu bara Bayah, di Banten selatan, disitulah ia bertemu dengan tokoh pahlawan nasional lainnya yaitu Tan Malaka.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, Herman dan teman-temannya akhirnya bebas dari kerja paksa dan kembali ke Yogyakarta. Lalu pada tahun 1947, Herman bergabung dengan Tentara Pelajar Sulawesi (PERPIS) dan terlibat dalam pertempuran hidup mati di Sidobunder, setelah menyelamatkan teman karibnya Alex Rumambi, ia di tangkap dan pada akhirnya di jatuhi hukuman mati pada 31 Desember 1948.

Kisah heroik Herman Yoseph Fernandez yang mempertaruhkan jiwa dan raga demi mengusir penjajah, adalah wujud nyata dari sikap patriotisme tanpa pamrih demi kemerdekaan ibu Pertiwi, ini salah satu contoh dari kesederhanaan adat ketimuran yang memegang teguh tanggung jawab dan moral dalam berbangsa dan bertanah air. Oleh karena itu, sangatlah pantas Herman Yoseph Fernandez diberi gelar Pahlawan Nasional dari Flores, Nusa Tenggara Timur. (Red)

  • Bagikan
Exit mobile version