Gerakan Bambu Restoratif: Pilar Ekonomi Baru NTT
Gubernur Melki menjelaskan, Gerakan Bambu Restoratif bukan hanya tentang penanaman, tetapi mencakup seluruh rantai nilai — mulai dari budidaya, pengolahan, hingga industri kreatif bambu. Pendekatan ini melibatkan sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas lokal.
Menurutnya, bambu dapat menjadi pilar utama ekonomi restoratif di NTT karena memiliki tiga kekuatan utama:
1. Cepat tumbuh dan ramah lingkungan, mampu menyerap karbon dan mencegah erosi.
2. Bernilai ekonomi tinggi, karena dapat diolah menjadi bahan bangunan, furnitur, hingga produk laminasi premium.
3. Berbasis komunitas desa, sehingga memberikan dampak langsung terhadap pengurangan kemiskinan dan penguatan ekonomi lokal.
“Kita ingin ekonomi yang tumbuh tanpa mengorbankan bumi. Bambu menjadi jembatan antara kesejahteraan manusia dan kelestarian lingkungan,” tegas Gubernur Melki.
Gerakan ini tidak berdiri sendiri. Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) menjadi pelopor utama yang menginisiasi pembangunan ekosistem bambu di NTT. Di bawah kepemimpinan Monica, YBLL mengembangkan Sistem Hutan Bambu Lestari (HBL) — metode panen tebang pilih yang menjaga keberlanjutan rumpun bambu dan kualitas ekosistemnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
