Selain itu, BambuCoop, koperasi produksi berbasis masyarakat, mengelola Rumah Produksi Bersama Mosedia yang menghasilkan berbagai produk bambu laminasi bernilai tinggi. Produk-produk ini tak hanya dijual di pasar lokal, tetapi juga mulai menembus pasar nasional dan internasional.
“Bambu membuka peluang besar untuk ekonomi hijau berbasis desa. Setiap batang bambu yang tumbuh adalah harapan bagi petani dan pengrajin lokal,” kata Monica, Direktur YBLL.
Model yang dikembangkan YBLL dan BambuCoop inilah yang kini diadopsi sebagai inspirasi utama Gerakan Bambu Restoratif NTT.
Forum lintas sektor di Labuan Bajo itu juga dihadiri oleh berbagai tokoh nasional seperti Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronika Tan; Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar; Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air, Catur Prasetyani; serta para kepala daerah dari berbagai kabupaten di NTT.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menilai bahwa gerakan bambu restoratif sejalan dengan kebijakan ekonomi kreatif nasional. “Nilai tambah bambu luar biasa besar. Dengan inovasi desain dan teknologi, bambu bisa jadi ikon ekspor hijau Indonesia dari Timur,” ujarnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








