Kemudahan akses keuangan memang membuka peluang. Namun, tanpa pemahaman yang memadai, kemudahan tersebut juga dapat mendorong perilaku konsumtif dan keputusan finansial yang tidak tepat.
Lebih jauh, minimnya pengetahuan mengenai investasi dapat membuat masyarakat rentan terhadap berbagai penawaran investasi ilegal yang menawarkan keuntungan tidak realistis.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT Ari Setyo Wibowo mengatakan, peningkatan inklusi keuangan nasional menunjukkan semakin luasnya masyarakat yang telah menggunakan layanan keuangan.
Berdasarkan data yang disampaikannya, indeks inklusi keuangan nasional meningkat dari 75,02 persen menjadi 80,51 persen. Sementara indeks literasi keuangan baru meningkat dari 65,43 persen menjadi 66,46 persen.
Bagi Ari, angka tersebut menunjukkan adanya pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Masyarakat semakin dekat dengan produk keuangan, tetapi kemampuan memahami dan mengelolanya secara aman belum sepenuhnya sejalan dengan peningkatan akses tersebut.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
