Sebaliknya, subsektor perikanan dan hortikultura mengalami tekanan berat dengan NTP jauh di bawah 100, menandakan kerugian secara riil bagi pelaku usaha di sektor tersebut.
Di sisi lain, inflasi di wilayah perdesaan NTT pada bulan Maret 2025 tercatat sebesar 0,95 persen. Inflasi ini terutama didorong oleh kenaikan harga pada subkelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga.
Kondisi ini menambah beban petani yang tidak hanya menghadapi harga jual komoditas yang stagnan, tapi juga harus menanggung lonjakan biaya hidup harian.
Penurunan NTP ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah dan pusat untuk memberikan perhatian lebih terhadap kebijakan penyesuaian harga input pertanian, subsidi energi untuk desa, serta penguatan daya tawar petani di pasar.
Selain itu, strategi pemberdayaan petani berbasis teknologi dan koperasi bisa menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga kestabilan nilai tukar petani di NTT.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
