Sementara itu, NTT Mart adalah pusat ritel modern yang akan menampung dan menjual semua produk lokal dari berbagai sektor: mulai dari beras, ikan, daging, air minum dalam kemasan (AMDK) lokal seperti Aquovid, hingga sabun cuci, sabun mandi, kecap, saus, dan produk tenun ikat.
“Kita sudah punya sabun sendiri, punya kecap, punya minuman mineral lokal, tapi masyarakat belum tahu. Tugas kita adalah mengenalkan dan mengajak semua masyarakat jadi konsumen utama produk NTT,” ujar Dr. Sony.
Gerakan One Village One Product dan Kolaborasi Lintas Sektor
Program ini tidak berdiri sendiri. Pemerintah juga menjalankan program One Village One Product (OVOP) yang mewajibkan setiap desa di NTT mengembangkan satu produk unggulan. Produk ini kemudian akan dibina, dikemas, dipromosikan, dan dijual melalui platform seperti Dapur Flobamorata dan NTT Mart.
Pemerintah provinsi menggandeng lintas sektor: Dinas PMD, Pariwisata, Perguruan Tinggi, Bank Indonesia, Bank NTT, hingga LSM untuk mewujudkan sistem ekonomi lokal yang mandiri dan berkelanjutan.
Kebangkitan Ekonomi NTT Dimulai dari Kita Sendiri
Dalam dialog tersebut, Dr. Sony juga mengingatkan bahwa kesadaran mencintai dan membeli produk lokal harus dimulai dari masyarakat NTT sendiri, termasuk diaspora yang tersebar di berbagai provinsi dan luar negeri.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








