“Negara kita bukan kapal bajak laut, bukan agresor. Kita adalah bangsa yang lahir dari darah dan air mata. Ada tempat untuk budaya pop, tapi bukan saat Merah Putih berkibar mengenang perjuangan kemerdekaan,” ujarnya.
Pernyataan keras ini juga merupakan respon terhadap komentar Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer, yang menyebut aksi tersebut sebagai ekspresi yang patut dipahami secara kontekstual. Indria menilai pernyataan itu keliru dan justru berbahaya bagi pembinaan semangat nasionalisme.
“Pejabat negara seharusnya menjadi penjaga moral nasionalisme, bukan memberi pembenaran terhadap tindakan yang merendahkan simbol negara,” tandasnya.
Menurut Indria, fenomena ini menunjukkan degradasi kesadaran sejarah di kalangan generasi muda. Ia mendesak pemerintah, aparat, dan masyarakat untuk tidak diam, tetapi memberikan tindakan tegas disertai edukasi.
“Jangan biarkan darah para pahlawan dipermalukan di hadapan bendera bajak laut. Ini bukan soal selera hiburan, ini soal harga diri bangsa,” pungkasnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
