“Masa pemerintah kabupaten tidak tahu kondisi ekonomi satu keluarga miskin dengan anak sekolah? Ini bukan kelalaian kecil. Ini kegagalan tata kelola,” ujarnya.
Dalam pernyataan yang lebih keras, Alfred menyinggung dimensi etika kepemimpinan. Menurutnya, seorang pemimpin daerah tidak layak mempertahankan jabatan ketika tragedi semacam ini terjadi.
“Kalau saya jadi Bupati Ngada, saya malu dan pasti mundur. Tidak pantas bergaya sebagai pejabat ketika ada anak mati karena tidak punya uang sepuluh ribu rupiah,” katanya.
Tragedi ini menambah deretan luka sosial di Nusa Tenggara Timur, sekaligus menjadi alarm keras bahwa kemiskinan ekstrem masih nyata, dekat, dan mematikan. Publik kini menunggu satu hal: apakah negara akan hadir dengan tindakan konkret, atau kembali membiarkan tragedi ini berlalu sebagai statistik kematian semata.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









