Greer menyatakan bahwa pihak imigrasi juga mengancam untuk menangkap istri Khalil, yang merupakan warga negara AS dan sedang hamil delapan bulan. “Kami akan berjuang untuk hak-hak Mahmoud di pengadilan,” kata Greer, menganggap penangkapan ini sebagai bagian dari tindakan represif pemerintah AS terhadap protes mahasiswa, khususnya yang terjadi di Universitas Columbia.
Departemen Keamanan Dalam Negeri mengatakan penangkapan Khalil terkait dengan pelaksanaan perintah eksekutif Trump yang melarang anti-Semitisme, dan menuduh Khalil terlibat dengan Hamas, namun tidak memberikan bukti rinci.
Pemerintah AS menggunakan penegakan hukum imigrasi sebagai alat untuk membungkam protes mahasiswa yang dianggap bertentangan dengan kebijakan luar negeri mereka. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan bahwa pemerintahan Trump akan mencabut visa atau kartu hijau bagi mereka yang mendukung Hamas.
Pengacara Khalil menentang langkah pemerintah, menyebut penahanan itu sebagai upaya untuk membungkam kebebasan berpendapat. Sementara itu, ACLU mengutuk penangkapan tersebut dan meminta agar Khalil segera dibebaskan, dengan menyebut tindakan pemerintah sebagai upaya untuk membatasi kebebasan berbicara.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
