Casey Barnett, Presiden Kamar Dagang Amerika di Kamboja, menjelaskan bahwa strategi ini adalah cara bagi perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk menghindari tarif AS yang tinggi. Namun, meskipun perusahaan-perusahaan ini mematuhi aturan, ada kekhawatiran bahwa ekonomi Kamboja dapat terpengaruh jika AS menargetkan negara ini sebagai sasaran berikutnya dalam perang dagang.
Barnett menambahkan, “Mereka sangat bergantung pada ekspor ke AS, dan bisa menjadi target yang rentan.”
Bagi para pemilik pabrik garmen mereka menggambarkan kekhawatiran tersebut dengan nyata, bisnis garmen telah dijalankan selama 20 tahun belakangan ini, muncul ketakutan atas kemungkinan tarif baru dari Presiden Trump terhadap produk-produk Tiongkok yang diproduksi di Kamboja.
Baca Juga : Seorang Pria di Jerman Menabrakan Mobil ke Kerumunan
Sejak perang dagang dimulai pada 2018, banyak pabrik dipindahkan dan keseluruhan operasinya berada di Kamboja, hal ini juga dikarenakan insentif pajak dan biaya tenaga kerja yang lebih rendah di negara ini.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









