Jenderal Lee Youngsu, kepala staf angkatan udara Korea Selatan, menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut dan menyatakan bahwa kejadian ini “tidak seharusnya terjadi dan tidak boleh terulang.” Setelah insiden itu, latihan tembak-menembak dihentikan sementara, dan akan dilanjutkan setelah penyelidikan selesai dan langkah-langkah pencegahan diterapkan.
Latihan Freedom Shield ini menandai latihan militer besar pertama sejak Presiden Trump memulai masa jabatan keduanya. Latihan ini dilaksanakan di tengah ketegangan yang meningkat dengan Korea Utara terkait program nuklirnya dan dukungannya terhadap Rusia dalam perang di Ukraina.
Meskipun Trump pernah menyatakan kesiapan untuk berkomunikasi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un guna menghidupkan kembali diplomasi, hubungan tersebut terhenti setelah perbedaan pendapat mengenai pertukaran sanksi dan langkah-langkah denuklirisasi.
Sementara itu, Korea Utara terus melancarkan kecaman terhadap Washington dan Seoul atas latihan militer gabungan ini, yang dipandang oleh Kim Jong Un sebagai latihan untuk invasi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
