Ia kembali menegaskan keyakinan kuat Trump bahwa AS harus mengutamakan pemulihan sektor manufaktur di dalam negeri.
“Presiden Trump memiliki tekad baja dan tidak akan goyah,” tegas Leavitt, sambil menambahkan bahwa “AS yang kuat tidak bisa sepenuhnya bergantung pada negara asing untuk makanan, obat-obatan, dan sumber daya penting lainnya.”
Namun, kebijakan tarif Trump menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk beberapa tokoh terkemuka di Wall Street, yang memperingatkan bahwa kebijakan ini bisa memicu inflasi dan memperlambat perekonomian AS.
“Apakah kebijakan tarif ini akan menyebabkan resesi atau tidak masih menjadi pertanyaan, tetapi hal itu pasti akan menghambat pertumbuhan,” kata CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, dalam surat tahunannya kepada para pemegang saham pada hari Senin lalu.
Beberapa ekonom juga memperkirakan kemungkinan resesi di AS setelah pengumuman tarif timbal balik oleh Trump. Analis Goldman Sachs, pada hari Senin, menaikkan probabilitas resesi dalam 12 bulan mendatang menjadi 45%, dari sebelumnya 35%. Goldman mencatat bahwa faktor-faktor seperti ketatnya kondisi keuangan, boikot konsumen terhadap produk AS, dan ketidakpastian terkait kebijakan ekonomi Trump berpotensi akan menekan pengeluaran modal lebih dari yang diperkirakan sebelumnya. (Red)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
