“Kami tidak ingin angka kematian ibu dan bayi hanya jadi statistik tahunan. Ini tentang keluarga yang kehilangan, tentang masa depan yang terputus. Kupang harus bergerak,” tegas Aurum.
Ia menyampaikan bahwa upaya penyelamatan ini akan dijalankan dengan tiga pendekatan utama: regulasi yang tepat, penganggaran prioritas, dan pengawasan ketat di lapangan. Tapi yang tak kalah penting: kerja kolaboratif lintas sektor.
Perubahan dimulai dari garda terdepan: puskesmas dan bidan. Dalam forum itu, dr. Yuli Sudin memaparkan temuan assesment dari 26 puskesmas. Sementara Kadis Kesehatan Yoel Laitabun menjelaskan rencana tindak lanjut yang menekankan pembenahan sistem rujukan, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, dan dukungan logistik esensial.
Perwakilan UNICEF, dr. Vama Chrisnadarmani, menyampaikan apresiasi atas komitmen Pemerintah Kabupaten Kupang. Menurutnya, Kupang menunjukkan kepemimpinan yang kuat dalam menjadikan data sebagai dasar kebijakan yang menyelamatkan nyawa.
“Kami berharap Kupang menjadi contoh bagaimana data bukan hanya untuk laporan, tapi untuk mengubah masa depan layanan kesehatan dasar,” ujarnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
