BNPB: Mitigasi Bencana Kegagalan Teknologi Industri Butuh Perubahan Paradigma dan Dokumen Darurat yang Taktis di Lapangan

bnpb-mitigasi-bencana-kegagalan-teknologi-industri-butuh-perubahan-paradigma-dan-dokumen-darurat-yang-taktis-di-lapangan
Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D., saat menjadi pemateri utama dalam Seminar Nasional Kesiapsiagaan Bencana Kegagalan Teknologi Industri di Kota Cilegon, Banten, pada Selasa (13/10), yang menjadi bagian dari rangkaian Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Tahun 2026.

Jika dikaitkan, konteks ancaman berantai ini sangat relevan dengan karakteristik geografis Kota Cilegon dan pesisir Selat Sunda yang diapit oleh aktivitas tektonik-vulkanik serta konsentrasi industri berat, pelabuhan, dan fasilitas energi. Belajar dari sejarah Tsunami Selat Sunda 2018, di mana runtuhnya sebagian badan Gunung Anak Krakatau memicu gelombang besar yang diredam secara parsial oleh gugusan pulau kecil di sekitarnya, maka otomatis wilayah padat industri seperti Cilegon dan daerah lain seperti Cilacap memiliki kerentanan terhadap potensi tsunami fire atau kebakaran kilang minyak akibat pergerakan tangki bahan berbahaya saat gempa.

Melalui momentum Peringatan Bulan PRB 2026 di Provinsi Banten ini, BNPB mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mengubah cara pandang mitigasi dari sekadar pemenuhan administratif di atas kertas menjadi kesiapan operasional yang cepat, terpadu, dan berorientasi langsung pada keselamatan masyarakat di kawasan industri.

Ketangguhan sebuah kawasan industri tidak lagi dinilai sebatas dari kepatuhan standar keselamatan internal, melainkan dari sejauh mana sistem tersebut mampu melindungi masyarakat sekitar dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

  • Bagikan
Exit mobile version