Untuk mengurangi jejak karbon, kompleks ini memadukan PLTU 2 × 150 MW, PLTG 80 MW, pemanfaatan panas buang 30 MW, dan 172 MWp tenaga surya—24 MWp di antaranya khusus untuk Karawang.
Proyek ini menjadi batu loncatan menuju target pemerintah memproduksi 600 000 unit EV per tahun pada 2030, memanfaatkan cadangan nikel terbesar dunia dan mengurangi ketergantungan impor baterai.
Di hadapan Dubes RRT Wang Lutong, para menteri Kabinet Merah Putih, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Bupati Karawang Aep Saepuloh, dan pimpinan ANTAM‑IBC‑CBL, Presiden menyebut proyek ini “kerja sama kolosal antar‑negara” yang menandai babak baru diplomasi industri Indonesia‑Tiongkok.
Dampak dan Tantangan
Ekonomi lokal: multiplier effect rantai pasok logistik, jasa, dan UMKM sekitar kawasan industri.
Teknologi dan SDM: alih teknologi dari CATL‑Brunp‑Lygend ke teknisi Indonesia; kebutuhan vokasi baterai & kimia terapan meningkat.
Lingkungan: kombinasi energi terbarukan memangkas emisi, namun pengawasan limbah HPAL di Halmahera tetap krusial.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
