Pernyataan tersebut menjadi dasar argumen Presiden bahwa negara tidak boleh bersikap pasif. Dalam pandangannya, persoalan gizi anak bukan urusan individual semata, melainkan tanggung jawab negara untuk menjamin kualitas sumber daya manusia di masa depan. Dari sinilah lahir program Makan Bergizi Gratis sebagai bentuk intervensi langsung, terukur, dan berkelanjutan.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa MBG dirancang bukan sebagai program karitatif sesaat, melainkan kebijakan struktural untuk memutus rantai kemiskinan dan ketimpangan sejak usia dini. Anak-anak yang kekurangan gizi, menurut Presiden, akan mengalami hambatan tumbuh kembang yang berdampak jangka panjang pada produktivitas dan daya saing bangsa.
Dalam taklimat tersebut, Presiden juga memaparkan capaian konkret program MBG setelah berjalan tepat satu tahun. Hingga 6 Januari 2026, program ini dilaporkan telah menjangkau 55 juta penerima manfaat, termasuk anak-anak sekolah dan ibu hamil di seluruh Indonesia.
“Hari ini adalah 6 Januari 2026 dan kita sudah mencapai hari ini dilaporkan kepada saya 55 juta penerima manfaat, 55 juta, 55 juta anak-anak Indonesia menerima makan tiap hari dan termasuk ibu-ibu hamil. Ini sesuatu yang membanggakan juga,” kata Presiden.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









