Tak hanya itu, kritik tajam juga sempat menghantam tim setelah hasil buruk di laga-laga krusial. Kekalahan beruntun dari Bologna dan AS Roma dengan skor identik 0-1 menjadi sorotan yang memperbesar keraguan terhadap kemampuan tim.
Situasi semakin rumit ketika klub menunjuk Cristian Chivu sebagai pelatih utama. Keputusan tersebut sempat dianggap berisiko karena Chivu belum memiliki banyak pengalaman di level senior. Sebelumnya, ia hanya menangani tim muda Inter sebelum akhirnya dipercaya menggantikan Simone Inzaghi yang hijrah ke Al Hilal.
Namun, keraguan tersebut perlahan terjawab. Di bawah kepemimpinan Chivu, Inter mampu bangkit dan menunjukkan performa yang stabil sepanjang musim. Ia berhasil mengoptimalkan potensi skuad dan menjaga mental tim tetap kuat meski berada di bawah tekanan.
Kesuksesan ini juga menjadi momen emosional bagi Chivu. Sebagai mantan pemain yang pernah menjadi bagian dari skuad treble Inter pada 2010, ia kini kembali menorehkan sejarah, kali ini sebagai pelatih. Ketika ditanya mengenai pencapaiannya, ia merespons dengan santai dan penuh rasa syukur, menegaskan bahwa kebahagiaan yang ia rasakan tidak jauh berbeda dengan saat masih aktif bermain.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
