Namun, perubahan tidak mungkin dibebankan kepada Guru BK dan sekolah saja. Orang tua dan sekolah harus berjalan dalam arah yang sama. Orang tua membangun kebiasaan disiplin di rumah, sementara Guru BK memperkuatnya melalui pendampingan di sekolah. Murid juga perlu dilibatkan dalam membuat kesepakatan dan target perubahan agar disiplin tumbuh dari kesadaran, bukan semata-mata karena takut dihukum.
Misalnya, keluarga dapat membuat kesepakatan penggunaan gawai pada malam hari. Setelah waktu tertentu, telepon genggam disimpan agar anak memiliki waktu istirahat yang cukup. Di sekolah, Guru BK dapat membantu murid menyusun target sederhana: datang tepat waktu, mengurangi kebiasaan membolos, mengatur waktu belajar, dan mulai serius memikirkan cita-cita.
Ketika murid memahami bahwa disiplin bukan sekadar aturan sekolah, tetapi bagian dari perjalanan menuju cita-cita, perubahan akan memiliki makna. Ia tidak lagi datang tepat waktu karena takut dicatat, melainkan karena sadar bahwa masa depannya terlalu berharga untuk dikorbankan oleh kebiasaan yang tidak baik.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
