Salah satu penyebab utama adalah kurangnya kemampuan mengatur waktu. Kebiasaan tidur larut malam membuat siswa bangun lebih siang sehingga waktu persiapan sebelum berangkat ke sekolah menjadi sangat terbatas. Akibatnya, siswa sering terlambat mengikuti apel pagi maupun kegiatan pembelajaran yang telah dimulai.
Selain faktor internal, kondisi geografis juga menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Sebagian siswa SMA Negeri Matpunu berasal dari wilayah yang cukup jauh dari sekolah. Mereka harus menempuh perjalanan puluhan kilometer dengan berjalan kaki, melewati medan yang berat, bahkan menyebrangi beberapa sungai. Pada musim hujan, kondisi jalan yang licin dan debit air sungai yang meningkat semakin memperbesar risiko keterlambatan. Situasi ini menunjukkan bahwa kedisiplinan siswa di daerah terpencil memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan dengan siswa yang tinggal di wilayah perkotaan.
Meski demikian, kebiasaan datang terlambat tetap perlu mendapatkan perhatian karena dapat berdampak pada proses belajar. Siswa yang terlambat sering kehilangan penjelasan awal guru yang biasanya berisi informasi penting mengenai materi pembelajaran. Akibatnya, mereka kesulitan memahami pelajaran secara utuh dan berpotensi tertinggal dari teman-temannya. Selain itu, keterlambatan juga dapat mengganggu jalannya pembelajaran karena perhatian kelas teralihkan saat siswa masuk setelah kegiatan berlangsung.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









