Karena itu, ketika seorang anak tiba-tiba menjadi pendiam, sering menangis, mudah marah, kehilangan semangat belajar, atau sulit bergaul, jangan buru-buru memberinya label sebagai anak nakal atau malas. Bisa jadi ada cerita yang sedang ia simpan sendirian. Guru memang bukan psikolog dan tidak harus memikul seluruh persoalan anak seorang diri, tetapi guru perlu memiliki kepekaan untuk melihat perubahan perilaku serta membangun komunikasi dengan keluarga dan pihak yang dapat memberikan pendampingan jika diperlukan.
Di rumah, anak juga membutuhkan orang dewasa yang konsisten. Ayah, nenek, kakek, tante, om, atau orang lain yang dipercaya dapat menjadi tempat anak menemukan kembali rasa aman. Yang paling penting bukan mencari siapa yang dapat menggantikan ibu, karena tidak ada yang benar-benar sama. Yang dibutuhkan anak adalah seseorang yang bersedia hadir ketika ia menangis, takut, gagal, bertanya tentang ibunya, bahkan ketika ia sedang sulit dikendalikan.
Anak perlu diyakinkan berulang kali bahwa kepergian atau ketidakhadiran ibu bukan kesalahannya. Ia tetap berharga, tetap layak dicintai, dan tetap memiliki masa depan. Rutinitas sederhana seperti waktu makan, belajar, bermain, tidur, hingga kebiasaan kecil sebelum tidur juga dapat membantu. Ketika sebagian hidup anak terasa tidak pasti, keteraturan dapat menjadi jangkar yang membuatnya kembali merasa aman.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
